Apa hikmahnya?

Jika  saja semua manusia memiliki watak dan kebiasaan yang sama, layaknya makhluk hasil cloning yang prosesnya 99 persen perfect, tentunya kita tidak akan mengenal benar salah, kita tak akan mengenal kebudayaan, kita juga tak akan memahami betapa besarnya Rabb pencipta Alam ini.begitu juga dengan rizki yang diberikan Allah pada hambanya, begitu bervariasi dan sangat beragam bahkan tak ada ststistik yang mampu menjabarkannya. Pernah suatu pertanyaan yang menggelikan dan dijawab juga dengan menggelikan, begini kira kira pertanyaannya:

“Allah itu tidak adi!l” kata seorang pendengar suatu majelis taklim

“kenapa?” jawab seorang ustad

“Allah tidak membagi rizki kepada semua manusia dengan adil, tidak sama”

Sang ustad dengan tersenyum menjawab,” begini, mungkin saudara akan mengerti jika saya menerangkan dengan contoh. Begini anggap saja Allah yang Maha Adil menurunkan rizkinya sama banyak dan serentak pada sutu pagi di sebuah kota, anggap saja setiap orang mendapat sepuluh karung beras, percaya atau tidak, hal ini akan menciptakan kekacauan yang besara pada kota tersebut, begini, seorang ibu dalam rumah tangga akan kebanjiran beras dirumahnya, jika saja dirumahnya ada tiga orang lainnya, maka ia sudah punya empat puluh karung beras, inisyatif pertama dan satu satunya dari si ibu tentunya menjual beras tersebut kepasar, ketika sampai pinggira jalan untuk menghentikan angkot yaqng akan digunakan, ternyata tak ada angkot yang mau memberi tumpangan, tentunya si supir angkot juga sibuk mengengkut beras empat puluh karung yang dianugerahkan Allah padanya, dan kalaupun dengan segala upaya si ibu bisa sampai kepasar dengan beras-berasnya, kesulitan lain akan ia temukan adalah kenyataan bahwa tidak ada orang yang mau membeli beras ,mendadak semua orang menjadi toke beras, supir angkot danbus kota mogok (ikutan sibuk menjual beras) bahkan semua orang sibuk termasuk guru, polisi, pegawai dan semua civitas kota tersebut tak terkecuali siswa dan mahasiswa yang seharusnya menuntut ilmu, menjual beras tanpa ada satupun orang yang membeli. Dijual dengan harga termurah sekalipun tak aka nada orang yang mau membeli, karna semua orang punya beras yang banyak, terjadilah super ekses suplly, semua beras tadi terpaksa di bawa lagi pulang. Dan untuk membawanya lagipulang kesulitannya akan sama dengan membawanya kepasar. kalaupun ada diantara mereka yang tak mau ambil pusing dengan beras-beras tersebut dan tetap berkomitmen dengan kesehariannya, tak akan ada gunanya, karna semua kantor, departemen bahkan sekolah sekolah akan terbengkalai dan bahkan tutup karna mayoritas dari merka semua akan sibuk dengan beras-berasnya. Siswa yang sudah sampai disekolah tidak akan menemukan gurunya karna guru guru juga akan sibuk dengan semua berasnya. Begitu juga dengan pegawai yang akan ngantor, mereka akan menemukan kantornya tutup karna satpam yang biasanya membukakan pintu kantornya sibuk dengan beras berasnya, tidak ada sarana transportasi yang jalan, layanan umu akan lumpuh, tak ada polisi yangmengatur lalu lintas. Dan masih banyak lagi rentetan peristiwa super yang akan mengiringinya. Dan itu baru contoh ketika Allah Adil mebagi rizkinya dengan Adil kepada semua warga  satu kota, apa jadinya jika warga satu dunia diberi rizki yang sama banyak (adil dalam pandangan manusia), apa yang akan terjadi? Bisakah anada membayangkan”

“Iya-ya” jawab si penanya dengan mengangguk..

Dari cerita di atas kita dapat pahami bahwa bukan berarti Allah itu tidak Adil, tetapi keadilan Allah itu bukanlah keadilan yang hanya bias dirasakan oleh manusia, kita tak akan mengerti dengan keadilan yang didefinisikan Allah. Keadilan Allah yang terbesar adalah memberikan yang terbaik pada kita, sekalipun terkadang kita memandangnya sebagai suatu musibah. Dan ternyata ketika memang kita ditakdirkan untuk tidak mendapatkan apa yang orang lain dapatkan , disana keadilan Allah yang sebenarnya,  barangkali akan lebih baik jika rizki itu tidak dianugerahkan pada kita, contohnya, jika Allah menganugerahkan beasiswa pada kita, kita akan menggunakannya untuk berfoya-foya dan melakukan perbuatan yang tidak berguna dan tentunya kita akan terjebak dalam dosa, dan jika kita tidak dianugerahi beasiswa tersebut tentunya kita akan terhindar dari hal tersebut. Contoh lain, ketika kita dianugerahi uang yang banyak akan nada rampok yang mengancam kelangsungan kehidupan kita, tentunya akan lebih baik jika Allah tidak menganugerhakan pada kita uang yang banyak tersebut.

Yakinlah bahwa Allah itu maha Adil Dengan segala keputusanya..

Dan yakinlah Bahwa rizki kita tak akan pernah tertukar

About these ads